Sabtu, 01 Februari 2014

Pengenalan dan Penjelasan Tehnik-tehnik Bermain Shred Guitar

Berhubung saya ngetik postingan ini malem-malem jadi..

Selamat malam.. :D tapi tergantung kalian bacanya kapan sih, bisa pagi, bisa siang, bisa sore, bisa subuh, jadi selamat malamnya bisa diganti.. (ga penting banget ya?)

Ya udah deh, lanjut ke topik pembahasan. Kali ini saya mau bagi-bagi sedikit pendapat, ilmu dan saran mengenai shred gitar. Maksudnya shred disini bukan berarti mencabik-cabik gitar ya, jadi, ga ada alat pangkas, grinda dsb selain gitar, dan pick. Mau komplit sama preamp dan stompbox juga boleh ko.. (udah dua kali ga penting)
Definisi sebenernya dari shred gitar itu adalah dimana permainan bener-bener nge-blend teknik yang kita punya untuk kita kombinasikan ke dalam solo, atau lick. Tehnik yang paling mendasar untuk shred guitar yakni bending, vibrato, slide, hammer-on/pull-off, legato, alternate picking, fast picking, sweep picking, arpeggio dan taping. Semua teknik tadi dikombinasikan dan dimainkan dengan tempo yang cepat. Sebenarnya masih banyak tehnik lain namun, di kesempatan kali ini saya hanya akan membahas tehnik-tehnik mendasarnya saja.

Banyak istilah-istilah yang akan saya pakai di penjelasan ini. Berikut istilah-istilah beserta arti dan penjelasannya:
a. Sequence: Pengulangan/mengulang
Fixed Bridge
b. Up-stroke: Pick ke atas
c. Down-stroke: Pick ke bawah
d. Whammy Bar: Bagian bridge pada gitar
e. Tremolo: Handle (tuas) pada whammy bar
f. Fixed Bridge: Bagian bridge pada gitar
g. Hard-tail: Bagian bridge pada gitar
h. Not: Satu nada yang dipetik
i. Chord: Rumpunan not yang disatukan
j. Scale: Tangga nada dalam satu chord
k. Lick: Pola dalam scale
l. Strumming: Cara memetik chord (banyak yang nyebut menggenjreng)

Istilah sudah, sekarang kita lanjut ke pembahasan tentang tehnik-tehnik, saya akan banyak mengambil kunci a minor untuk dijadikan contoh. Okay, let's begin!

1. Bend
Bend Up

Tehnik ini berlaku di gitar string saja meskipun tidak menutup kemungkinan untuk senar nylon dapat di bend, hanya saja, senar nylon memang tidak diperuntukan untuk bending, mungkin untuk anda pemegang gitar nylon anda dapat mengganti bending dengan slide.
Teknik ini termasuk yang paling simple dan mudah dilakukan juga mudah dipelajari. Anda hanya perlu mendorong senar ke atas atau ke bawah memakai jari tangan kiri. Contohnya, posisikan jari manis di fret 5 di senar 3, jari tengah di fret 4 senar 3, dan telunjuk di fret 3 masih di senar 3. Petik senar 3 lalu dorong senar 3 mendekati senar 4 dan foila! Anda baru saja bending. Itu adalah cara yang paling umum untuk belajar bending, namun banyak berbagai cara yang dikembangkan untuk melakukannya. Ada yang lebih mengandalkan tumpuan pada ruas telunjuk dan memutar pergelangan tangan, ada yang menggunakan 3 jari untuk bending 1 not (seperti penjelasan barusan), ada yang hanya menggunakan 1 jari (contohnya B.B. King), bahkan ada yang iseng pake tangan kanan (buka youtube paul gilbert get out of my yard solo).

Bend Down
Jadi, bending adalah tehnik mendorong senar untuk mencapai 1 sampai 2 1/2 not di atasnya, bahkan banyak para gitaris yang mengusahakan mencapai 3 namun lebih bagus untuk tidak memaksakan dengan tujuan menghindari putusnya senar dan menghindari melukai jari karena tekanan senar. Pada dasarnya bending dapat dilakukan di semua senar meskipun hanya senar 2 dan 3 yang akan sering terpakai bending oleh kebanyakan gitaris. Ada dua tata cara bending dibagi dari 3 posisi senar teratas dan terbawah, yaitu bend up untuk senar 1 sampai 3, dan bend down untuk senar 4 sampai 6. Namun, tata cara ini hanya aturan pada umumnya saja terkecuali senar paling ujung fretboard seperti senar 6 yang harus di bending ke bawah dan senar satu yang memang harus di bending ke atas. Jika ada pendapat dari saya mengenai bending, bending adalah bagian dari bermain gitar, bermain gitar adalah bagian dari bermusik, bermusik adalah bagian dari berkarya seni, maka tidak ada aturan dalam karya seni yang begitu membelenggu untuk berekspresi. Kamu bisa bending senar 4 ke bawah, atau senar 3 ke bawah, tergantung yang mana yang lebih nyaman atau lebih bagus, kembali lagi pada selera masing-masing. Bending pun berlaku untuk 2 senar sekaligus. Contohnya, petik senar 4 di fret 7, petik senar 3 di fret 5, kemudian petik dan bending ke atas senar 2 di fret 7 dan 3 di fret 7 secara bersamaan, terdengar blues atau rock n roll bukan?

Kesimpulannya, bending adalah tehnik yang sangat mudah untuk dipelajari namun termasuk hal penting untuk permainan. Tanpa bending, solo akan terdengar sangat monoton dan tidak berwarna untuk dimainkan. Seperti halnya lauk pauk dan nasi, nasi memang sumber karbohidrat namun tetap hambar jika tidak ada lauknya untuk dimakan. (kenapa nyambung ke makanan?)


2. Vibrato

Vibrato adalah tingkat lanjutan dari tehnik bending. Arti vibrato sendiri adalah getaran, maka, tehnik vibrato sendiri adalah menggetarkan senar. Sekarang sudah ada whammy bar atau tremolo untuk memudahkan tehnik ini namun, pribadi, saya lebih memilih menggunakan cara manual dengan menggunakan tangan kiri untuk melakukannya. Untuk yang menggunakan whammy bar, melakukan vibrato cukup dengan mengangkat dan mendorong lengan tremolo saja. Untuk yang gitarnya memakai fixed bridge atau hard tail, mau tidak mau harus manual. Caranya didasari tehnik bending, anda bisa menggunakan tumpuan antara ruas jari telunjuk dan ruas ibu jari tangan kiri anda kemudian bending satu senar ke atas dan kebawah, atau anda bisa mengandalkan otot-otot jari untuk vibrato. Untuk vibrato yang lebih cepat, anda tidak harus bending terlalu jauh, hanya membuat not terdengar goyang pun sudah cukup.


3. Slide

Tadi kita udah nyinggung slide di poin bending. Slide tidak hanya diperuntukan untuk gitar nylon. Faktanya, tehnik ini pun tidak kalah pentingnya dalam dunia shred yang dimainkan dengan gitar string dan elektrik. Slide adalah tehnik menggeser jari di fretboard ke not yang lebih tinggi maupun lebih rendah. Slide pun banyak digunakan untuk menutupi jeda atau kekosongan dalam fast picking. Penggunaan slide yang paling umum biasanya diperuntukkan untuk position shifting, misalkan anda sedang bermain doremifasolasi, anda ingin melanjutkan doremifasolasi ke fret yang lebih tinggi agar anda bisa bermain lick berdurasi lebih panjang, disinilah slide digunakan. Jika harusnya anda hanya bisa memainkan 16 not, karena tangan anda terus bergeser ke fret yang lebih bawah, tentunya anda bisa melanjutkan 16 not tadi. Slide juga merupakan alternatif sebagai pengganti bending.


4. a. Hammer-on

Arti hammer on sendiri adalah palu, namun membayangkan bermain gitar dengan menggunakan perkakas palu tentunya hanyalah bercanda. Maksud hammer on sendiri adalah memakai jari untuk memalu senar di fretboard dengan jari-jari tangan kiri dan membunyikan not tanpa bantuan pick, jadi intinya, hammer-on bergantung pada kekuatan jari sebelah tangan saja yakni tangan kiri. Hammer on dilakukan untuk pola ascending (naik ke not yang lebih tinggi atau not selanjutnya) dalam satu senar saja, dan sangat berguna untuk menderetkan not dalam tempo, di arti lain, anda bisa menderetkan banyak not dalam satu bar di tempo yang hanya menyediakan beberapa not saja, misalkan kapasitas bar tersebut hanya bisa memungkinkan anda melakukan pola ascending sebanyak 4 not jika anda memakai tehnik picking, namun anda bisa bermain hingga 6 not dalam bar tersebut dengan tehnik ini. Hammer on dimulai dengan pick not pertama kemudian lanjutkan dengan menekan not yang lebih tinggi di fret selanjutnya, contohnya, posisikan jari telunjuk di fret 5 senar 1, pick not pertama yang ditekan telunjuk, kemudian tekan not di fret 7 masih senar 1, lanjutkan tekan fret 8 di senar 1.


4. b. Pull-off

Pull-off adalah kebalikan dari hammer on. Jika hammer-on adalah tehnik ascending pattern untuk rush tempo, maka pull-off adalah tehnik descending pattern (turun ke not yang lebih rendah) di satu senar untuk rush tempo. Masih menggunakan otot jari tangan kiri anda, namun ada tehnik berbeda untuk melakukan pull-off. Jika anda sering mendengar tehnik mencabik pada gitar, tehnik itu sebenarnya bernama pull off. Jadi, hal pertama yang anda lakukan adalah tekan semua not dengan jari yang akan anda mainkan pada satu senar dan kemudian lepaskan not yang paling tinggi saja. Contohnya posisikan 3 jari dalam 1 senar, tekan not di fret 8 dengan kelingking di senar 1, jari manis di fret 7 senar 1, dan telunjuk di fret 5 masih senar 1, pick not pertama yang ditekan kelingking, kemudian tarik kelingking kebawah dan lepaskan senar, tarik jari manis dan lepaskan senar, biarkan telunjuk terus menekan senar (jangan ikut dilepas), lakukan secara berulang. Contoh tadi adalah melakukan pola triplet dalam kunci a minor. Pola tadi pun bisa dikembangkan dengan cara digabung dengan hammer on, berikut caranya; posisikan jari seperti contoh barusan, pick not yang di tekan kelingking, tarik kelingking dan jari manis secara bersamaan, sisakan telunjuk saja, gunakan hammer on dengan menekan fret ke 7, dan lakukakn berulang.

*Note: Hammer-on dan Pull-off tidak harus dimainkan hanya di senar 1, anda bisa memainkannya di senar 2, 3, 4, 5 juga 6.


5. Legato

 Jika sudah mengerti poin 4.a dan 4.b, maka tehnik legato hanyalah kombinasi kedua poin tadi untuk memainkan pola yang lebih panjang atau bahkan solo. Maksud kombinasi disini anda bisa melakukan keduanya secara bebas baik melakukan hammer-on dari senar 6 terus berlanjut hingga senar 1, melakukan sebaliknya dengan pull-off dari senar 1 ke senar 6, melakukan pull-off dari senar 1 ke senar 6 dilanjutkan dengan hammer-on untuk kembali ke senar 1, maupun melakukan sebaliknya dalam satu rumpun chord. Penjelasan simplenya, anda dapat bermain cepat dan terus berjalan tanpa berhenti dengan kombinasi hammer-on dan pull-off.


6. Alternate Picking


Alternate Picking merupakan salah satu tehnik vital dalam permainan gitar. Tak kalah penting dari bending, tehnik ini menjadi kewajiban, mungkin juga kebutuhan primer bagi setiap gitaris. Tehnik ini adalah penopang tempo dalam lick, riff, dan solo. Jika pull-off, hammer-on dan legato merupakan tehnik untuk rushing dan keluar dari tempo, maka alternate picking adalah jalan bagi kita untuk kembali pada tempo yang tepat. Cara melakukan alternate picking sendiri adalah memainkan lick dan not dengan pick setiap notnya ke atas dan kebawah dan terus berlanjut, Untuk pick ke atas dinamakan up stroke dan kebawah dinamakan down stroke. Contohnya, jika anda bermain di kunci a minor/c mayor, memakai legato anda hanya pick not pertama setiap senarnya kemudian memulainya secara ascending dari senar 6 ke senar satu dan berlaku sebaliknya, maka alternate picking adalah pick semua not dari senar 6 sampai 1, berlaku juga sebaliknya. Contoh jelasnya, tekan fret 8 di senar 1 lalu lakukan down-stroke, lanjutkan ke fret 7 di senar 1 dengan up-stroke, lanjutkan lagi ke fret 5 masih di senar 1 dengan kembali down-stroke, kemudian lanjutkan ke senar 2 dengan menekan fret 8 up-stroke, 7 di senar 2 down-stroke, 5 senar 2 up-stroke, dan terus lanjutkan dengan picking ke bawah dan ke atas. Tidak boleh ada double down atau double up saat alternate picking kecuali ada alasan yang mendukung seperti separasi lick, atau bersiap melakukan tehnik lain, dan alasan-alasan tertentu yang mengharuskan.

Untuk latihan alternate picking sangat dianjurkan menggunakan metronom agar mendapatkan hasil bermain rapi dengan tempo yang konstan. Mulailah dari tempo yang paling pelan. Meskipun kesal namun pelan akan sangat membantu anda mendengar not secara jelas dan mendisiplinkan jari-jari juga tangan kanan anda dalam alternate picking, jika anda sudah cukup menguasai pada tempo pelan, beranjaklah ke tempo yang sedikit lebih cepat. Saya menganjurkan jika ingin menaikkan tempo lebih baik percepat tempo ke kecepatan yang tidak signifikan, contohnya, mainkan lick yang anda punya dan mulai pada tempo 50 bpm. Jika anda rasa anda sudah menguasainya, maka percepatlah ke 55 bpm. Memang tidak terasa, namun jika anda bisa melakukannya naik 10 bpm setiap hari, maka kecepatan 200 hingga 300 bpm para gitaris dunia bukanlah mustahil.


7. Fast Picking

Fast Picking adalah hasil akhir dari latihan alternate picking. Fast picking merupakan kecepatan tangan kanan untuk bermain lick dan banyak digunakan dalam solo. Fast picking adalah manual dari legato. Jika kecepatan dari legato bergantung dan mengandalkan tenaga jari-jari tangan kiri, maka fast picking adalah bermain cepat dengan mengandalkan tangan kanan dan pick yang anda pegang.


8. Sweep Picking

Banyak yang salah mengartikan sweep picking sebagai arpeggio meskipun memang fakta pada umumnya sweep picking dilakukan untuk arpeggio. Jika anda sering mendengar arpeggio adalah strumming seakan terlihat pick bergerak menyapu dari senar teratas hingga terbawah dan menghasilkan melody, itu sebenarnya arti dari sweep picking. Jadi, sweep picking adalah bermain satu not pada setiap senar dengan pola ascending maupun descending secara cepat dengan menyapu senar menggunakan pick. Jika ascending maka semua senar disapu ke arah bawa, dan descending sebaliknya. Contoh umumnya, untuk ascending tekan dan down-stroke senar 3 fret 9 dengan telunjuk, lanjut down-stroke senar 2 fret 10 dengan jari tengah, down-stroke lagi senar 1 fret 8 dengan telunjuk, dan akhiri dengan hammer on memakai kelingking ke fret 12. Lakukan dengan cepat dengan gerakan meyapu tadi. Untuk descending, pull off dari kelingking di fret 12 senar 1 ke telunjuk fret 8 senar 1, up-stroke fret 10 senar 2, up-stroke fret 9 senar 3. Sweep picking pun bisa dilakukan 5 bahkan 6 senar sekaligus, caranya sama seperti contoh tadi hanya saja mulai dan berakhir di senar yang lebih rendah.

9. Arpeggio

Mengapa sweep picking tadi sangat berkaitan dengan arpeggio bahkan sampai banyak yang berfikir bahwa sweep sendiri adalah arpeggio dikarenakan arti arpeggio sendiri adalah memecah chord menjadi not-not yang terpisah untuk dijadikan melody dan cara yang paling umum digunakan untuk memecah chord tersebut adalah melalui sweep picking. Misalkan anda memainkan power chord a minor, chord tersebut terdiri dari triad yaitu a, c, dan e. Untuk memainkan chord a minor anda cukup strumming, namun, karena arpeggio adalah memecahkan chord a minor menjadi 3 not terpisah maka anda harus pick notnya satu-satu. Sweep picking bukanlah satu-satunya cara untuk melakukan arpeggio. Paul gilbert menemukan cara yang lebih unik dan menjadi ciri khasnya untuk memainkan arpeggio lebih terkontrol pada tempo (tidak rushing seperti sweep). Cara tersebut adalah active-inactive position shift dan string skipping. Active shift position adalah memainkan triad not tadi secara ascending dan mengulang not triad tadi pada oktav yang lebih tinggi. Contohnya, ambil satu bentuk triad minor, yaitu a, c, dan e di senar 6 dan 5. Yang akan kita dapatkan adalah fret 5 senar 6 dengan telunjuk, lanjut dengan fret 8 senar 6 dengan kelingking, dan fret 7 senar 5 dengan jari manis. Selanjutnya temukan aktif (oktav yang lebih tinggi) dari triad tadi, jika selanjutnya adalah triad yang sama, tentu saja hal yang paling mudah adalah mencari bentuk (gerakan tangan) yang sama seperti triad pertama. Maka bentuk termudah yang kita dapatkan adalah fret 7 senar 4 dengan telunjuk, fret 10 senar 4, dengan kelingking dan fret 9 senar 3 dengan jari manis. Jika ingin arpeggio a minor ini bertambah luas tambahkan satu aktif lagi di senar 2 dan 1 dengan bentuk yang sama juga. Untuk pickingnya anda bisa pakai alternate picking untuk semua notnya, pick down - hammer-on - pick up setiap triadnya dan melakukan hal yang sama pada triad aktif berikutnya, atau dengan legato. Keuntungan dari teknik ini adalah bentuknya yang mudah membuatnya mudah untuk dipraktekan dan fingeringnya pun berlaku pada setiap chord. Hanya saja, active-inactive position shift ini sulit untuk dipraktekan dengan tempo cepat apalagi secepat sweep picking. Untuk string skipping, cara ini adalah cara yang paling nyaman dipakai untuk melakukan sequence pada arpeggio. String skipping ini sebenarnya terdiri dari pull-off dan hammer-on, sedikit picking dan melewat (skipping) satu atau dua senar untuk tidak dimainkan melainkan meloncat ke senar berikutnya. Contohnya, untuk descending lakukan pull-off di fret 8 senar 1 ke fret 5 masih senar 1, loncat langsung ke senar 3 dan lakukan pull of dari fret 9 ke fret 6 dan pick down di fret 7 senar 4. Untuk ascending, pick down not a pada senar 4 fret 7, lakukan hammer-on diawali up-stroke dari fret 5 ke fret 9 di senar 3, meloncat langsung ke senar 1 dan lakukan up-stroke di not a fret 5, kemudian cobalah gabungkan descending dengan ascending. Keuntungan string skipping tadi adalah kita bisa mengontrol aksen dan tempo dan lebih mendapatkan feel ketimbang melakukan arpeggio dengan sweep picking, namun juga, string skipping tidak akan bisa secepat sweep picking dikarenakan string skipping tersebut pecahan dari 3 tehnik yang membutuhkan cara-cara untuk melakukan tehniknya. Dari kesimpulan penjelasan 2 tehnik ekstra tadi, keduanya, baik active-inactive maupun string skipping memang bukan diperuntukan untuk rushing not seperti sweep picking melainkan diperuntukkan agar bisa tetap memainkan arpeggio dalam berbagai kecepatan tempo dan agar arpeggio bisa di bentuk dengan sequence, tidak hanya open down ascending atau open up descending.


10. Taping

Taping adalah wujud lain dari legato atau kombinasi pull-off dan hammer-on. Perbedaannya, pada legato, kita harus picking not pertama, sisanya biarkan tangan kiri yang bekerja, jika taping, kita menekan atau pull-off not pertama dengan menggunakan
tangan kanan, lalu dilanjutkan dengan tangan kiri yang bekerja kemudian dilakukan secara berulang. Cara melakukan taping sendiri sama halnya seperti pull-off dan hammer-on. Contohnya, posisikan telunjuk di fret 5 dan jari manis di fret 7 pada senar 1, tekan senar 1 fret 8 dengan tangan kanan, tarik kebawah atau lepaskan seperti melakukan pull-off ke fret 7, dan lanjutkan pull-off ke fret 5. atau bisa juga tap fret 8, langsung pull-off ke fret 5 dan lakukan hammer-on ke fret 7.


Oke.. Kita sudah cukup membahas tentang tehnik-tehnik umum diatas. Sekarang yang akan saya bagikan sebenarnya sedikit, namun penjelasan tehnik-tehnik diatas akan sedikit membantu untuk mengerti apa yang coba saya sampaikan.

Untuk shred sebenarnya kita tidak harus memakai kesepuluh tehnik di atas, mungkin juga bisa hanya setengahnya atau lebih dari sepuluh. Namun itu adalah tehnik mendasar yang wajib kita pahami untuk bermain shred guitar. Sebenarnya killer riffs parts, atau terrifying solo yang dimainkan oleh para shredder itu sederhana jika kita memahami pembahasan tehnik-tehnik diatas. Pada kenyataannya mereka hanya memainkan kombinasi beberapa lick yang mereka buat dengan berbagai tehnik tadi dalam tempo yang cepat. Masalah kecepatan hanyalah tuntutan untuk anda berdisiplin diri dalam latihan baik picking maupun fingering. Hal pertama yang saya anjurkan untuk bermain shred adalah kenali dan pahami dulu istilah-istilah pada bermain gitar seperti lick, scale, picking, fingering, techniques dan lain-lain. Kemudian carilah alasan yang harus anda temukan agar anda semangat untuk belajar, cobalah temukan hal yang paling mudah menurut anda untuk dimengerti, dipelajari, dan dipraktekan agar cepat mencapai keinginan dan membuat anda menjadi senang belajar. Tentukan tehnik apa yang anda sukai. Disiplin menekuni satu tehnik, jangan meloncat mempelajari tehnik lain jika anda belum cukup menguasai tehnik yang tengah anda tekuni. Jangan terlalu terpaku pada instruksi dan buku panduan pada saat sedang belajar, jika ada tehnik yang memotivasi anda untuk belajar maka disitulah menurut saya anda harus mulai, karena saya menilai rata-rata orang akan tergerak dan termotivasi untuk belajar didasari rasa suka, bukan karena paksaan guru atau buku, dan tentu saja hasilnya akan lebih cepat bisa orang yang mau belajar ketimbang yang terpaksa belajar. Misal: Anda tertarik pada 3 notes-per-string fast lick, anda tidak perlu khawatir dan berfikir bahwa anda meloncati tahap awal seperti senam jari dan scale pentatonic untuk langsung belajar 3 notes-per-string fast lick. Jika anda kesal mendengar nada chromatic dari senam jari, atau pentatonic bukanlah target yang anda kejar untuk bisa bermain shred guitar, saya pikir tidak apa-apa anda langsung ke bab 3 notes-per-string pattern dengan catatan, anda memang benar-benar tertarik, suka, dan memiliki target ingin menguasai itu.

Cara step-by-step tidaklah keliru, namun jika anda adalah tipe orang yang tidak sabaran, meloncat pelajaran langsung ke target yang anda tentukan adalah cara alternatif yang paling cepat untuk belajar dan paling efektif dalam membawa motivasi. Jika anda memang benar orang yang tak sabaran, saya yakin anda malas mendengar nada chromatic dari senam jari dan saya cukup yakin anda akan malas meluangkan waktu untuk mempelajarinya dikarenakan tidak suka. Beda halnya jika anda menyukai apa yang anda pelajari, dengan berbagai macam motivasi seperti buruknya hanya ingin pamer di depan teman-teman atau baiknya ingin menguasai, anda pasti akan banyak meluangkan waktu untuk mengejar apa yang anda inginkan untuk berbagai alasan seperti ingin cepat-cepat pamer, ingin cepat menguasai, dan lain-lain. Di sisi lain, anda pun cepat bisa karena anda terus menyediakan waktu luang untuk belajar, dan anda dapat berkorban menyediakan waktu luang karena anda suka dan menginginkannya. Saya rasa hal ini sama seperti halnya cowo yang lagi pdkt sama cewe. Karena suka sama si cewe, si cowo pasti ngeluangin waktu untuk pdkt sama si cewe, target si cowo itu pun biar bisa dapetin si cewe, berakhirlah si cowo jadi buaya alligator dan cari mangsa lain cewe-cewe yang lebih aduhai.. Itu perumpamaannya, anggaplah jika anda adalah alligatornya, cewe-cewe itu adalah tehnik-tehnik, pdkt itu belajar, dan dapetin cewe itu berhasil menguasai apa yang dipelajari. Tapi tenang saya juga alligator ko, bedanya kurus ga pernah dapet mangsa ^^"

Ini sedikit poin, pendapat, saran dan sebagainya yang bisa anda kutip, sedikitnya saya harapkan postingan ini bermanfaat untuk anda belajar, ganbatte kudasai ^_^

Senin, 27 Januari 2014

Ibanez

Masih tentang brand gitar. Di postingan sebelumnya saya sempat membahas Ibanez sedikit dalam, maka di kesempatan kali ini, saya akan berbagi informasi yang lebih dalam dan spesifik tentang Ibanez. Pertama-tama, mari kita kenali dulu sedikit sejarah tentang Ibanez yang bisa kita kutip dari wikipedia. :D


Ibanez (アイバニーズ Aibanīzu) adalah brand gitar Jepang yang dimiliki oleh Hoshino Gakki. Bermarkas di Nagoya, Aichi, Jepang, Hoshino Gakki adalah satu dari perusahaan instrumen musik Jepang pertama yang berkembang dalam impor dan penjualan gitar ke Inggris dan Amerika Serikat, termasuk gitar 7 dan 8 senar untuk diproduksi masal.

Itu sedikit kutipan yang saya copas dari wiki. Nah, sekarang saya bakal jelasin secara orisinil seperti apa Ibanez itu berdasarkan pendapat dan pengalaman saya.

Pengalaman yang saya dapatkan dari 4 tahun memakai Ibanez adalah saya cukup mengenal seperti apa dan mengapa memilih Ibanez. Alasan yang paling universal kenapa pilih ibanez mungkin banyak yang bilang, "Ibanez itu gitar metal, banyak gitaris metal yang pake soalnya, kaya gitaris The Black Dahlia Murder, All Shall Perish, Racer X, dan lain-lain.". Alasan lain, banyak yang bilang, "necknya cocok ditangan, ceper dan kurus, enak buat nge-shred.". Yap, saya benarkan keduanya. Tapi, untuk alasan yang lebih spesifik, saya akan ambil alasan Paul Gilbert Racer X sebagai contoh.

Mengapa Gilbert memilih Ibanez? Alasan yang paling utamanya jelas dia jadi endorser Ibanez sih.. ^^' Misalkan kamu pencinta Ibanez, suatu saat kamu jadi gitaris terkenal, tiba-tiba kamu dikontrak jadi endorse Gibson, dapet duit banyak dari situ, yakin ga akan pindah ke lain hati?? :D Tapi alasan sebenarnya mengapa Gilbert memilih Ibanez adalah dari neck gitar, tone, dan modelnya. Untuk neck, para shredder seperti Gilbert memang sangat mempertimbangkan neck dan fretboard. Terkenal dengan ukuran necknya yang pipih, kurus dan kecil juga fretboardnya yang kebanyakan "dead flat", Ibanez benar-benar memberikan kenyamanan dalam bermain cepat. Alasan ini pun menjadi alasan saya memakai Ibanez. Pada kenyataannya, Gilbert sendiri sudah meninggalkan alasan ukuran neck yang kecil dan memilih neck yang besar dengan tujuan untuk mendapatkan tone yang solid, berat, dan kuat, seperti tone yang dia inginkan, hanya alasan "dead-flat fretboard" saja yang tidak dia tinggalkan dalam revolusi permainannya. Paul Gilbert adalah salah satu dari para gitaris dunia yang benar-benar memperhatikan tone secara detail dalam permainannya. Gilbert sendiri menuntut tone terdengar clean dan bright namun tetap low, big, and heavy untuk memainkan power chords, bukan berarti balance, namun ia cenderung menginginkan karakter clean terdengar jelas didalam gitar yang berkarakter low, big dan heavy tone. Mudahnya, bayangkan kamu memainkan power chord misalkan a mayor fret 5 senar 6 dengan distorsi. Jika a power chord a mayor tersebut terdiri dari not a (fret 5 senar 6), e (fret 7 senar 5), dan a (fret 7 senar 4), kemudian disusul oleh not g# (f6 s3), e (f5 s2), dan a (f5 s1), maka, saat kamu strum, suara keenam not tadi dapat terdengar cukup jelas di telinga meskipun dalam high-gain distorsi yang memecah suara chord tersebut. Selain dari clean inside big tone, Gilbert pun memperhatikan tone pada single not dalam permainan solonya seperti memperhatikan kualitas tone saat bending dan shred. Contohnya, jika bermain solo atau lead, kebanyakan para gitaris "nge-boost" tonenya jadi lebih gede dan bang the ears, Gilbert lebih milih kebalikannya, boost di rythm, clean and careful di solo, dengan tujuan agar not terdengar jelas meskipun dalam permainan cepat. Namun selain dari neck dan bahan kayu, Ibanez memang tidak mendatangkan alasan ini melainkan dari gear support seperti pick-up dan pedal yang Gilbert pakai. Namun sedikitnya alasan ini pun saya pakai untuk memilih Ibanez :D. Yang terakhir mungkin adalah Ibanez yang menyediakan begitu banyak opsi untuk para pemakainya. Kamu bisa mendapatkan karakter yang kamu inginkan. Contohnya, saya bukan orang yang terlalu memperhatikan detail. Untuk mendapatkan karakter warm dan low saya tidak bergantung pada gitar melainkan cenderung bergantung pada gear seperti preamp, pedal, dan pick-up. Masalah pada gitar, saya lebih memilih kayu ash dan alder untuk bobot yang ringan sekaligus mendapatkan karakter clean dan crunch, dan yang pastinya jelas ringan untuk main oolahoop di stage biar gaya, kesimpulannya, gaya dulu, masalah tone nanti aja diakalin ^^'.

Kalo tadi saya ambil contoh dari Gilbert, sekarang saya akan ambil contoh dari saya sendiri. Tidak jauh berbeda, tapi saya tidak total copy. Sedikitnya saya coba mengenali seperti apa tone yang sebenarnya saya butuhkan. 

Pertama, saya akan ambil alasan dari neck. Simple itu menyenangkan meski terdengar instan. Saya memang membutuhkan neck yang tipis kurus kecil untuk bermain cepat, di sisi lain, neck kecil benar-benar membantu dalam bermain fingering yang stretchnya gila-gilaan, kerasanya pas lagi strap-on (main gitar sambil berdiri). Hal ini juga yang membuat saya tidak memperhatikan tone begitu detail. Selama nyaman di tangan, masalah tone nanti saja saya akalin lagi :D. Tentang playability dan kenyamanan tangan, saya lebih memilih bolt on dan neck-thru pada konstruksi necknya. Sebenarnya saya tidak begitu peduli dengan sustainnya meskipun at least saya masih mempertimbangkan itu, namun bolt on/neck-thru memang memberikan kenyamanan dan sangat membantu mencapai fret 20-24. Kesimpulan, saya lebih memperhatikan playability ketimbang tone untuk mempertimbangkan gitar.

Kedua dari bahan kayu. Sebenarnya saya sudah merasa cocok dengan bahan basswood dengan warna
tonenya yang balance antara clean dan warm. Namun, karena saya setuju dengan alasan Gilbert tentang clean and heavy sound tadi, disamping bobot yang ringan itu nyaman untuk dibawa main ke atas panggung, saya mempertimbangkan kayu ash dan alder sebagai bahan kayu yang akan saya pakai. Catalog Ibanez pun menyediakan gitar dengan berbagai macam model dan kayu.








Ketiga dari model. Untuk gitar metal, saya rasa Ibanez menyediakan model yang beragam dan cukup bagus meski tak sebagus Jackson dan Schecter. Kenyataannya saya hanya menyukai 3 model saja dari Ibanez yaitu Iceman, Destroyer, dan RG. 3 model tersebut menurut saya cukup bertampang garang untuk dibawa nge-rock di panggung dan, faforit saya dari ketiga model tersebut adalah Ibanez Iceman. Sayangnya, ketiga model tadi kecuali RG cukup susah didapatkan, meskipun ada, harganya cukup menyayat hati -_-".
Ibanez Iceman
Ibanez Destroyer






Ibanez RG "Iron Label"







 Inilah sedikit informasi yang bisa saya share mengenai Ibanez. Maaf jika saya terlalu banyak mengambil contoh dari Paul Gilbert. Selain karena saya fansnya, saya tidak berani membahas gitaris lain yang saya belum dalami secara total. Postingan inipun hanya opini saya semata, dan setiap opini pasti berbeda-beda. Saya tidak bilang jika Ibanez adalah yang terbaik. Kembali lagi pada anda sebagai gitaris dan gitar seperti apa yang anda butuhkan, tone atau playability yang anda pertimbangkan, jika tone maka tone seperti apa yang dipertimbangkan, jika playability maka playability yang bagaimana. Semakin gitar tersebut nyaman dan sesuai dengan keinginan baik dalam tone maupun playability, maka akan semakin memuaskan juga untuk dimainkan baik hanya latihan maupun menjadi teman dipanggung. Memberikan kesenangan dalam permainan akan menjadi motivasi untuk permainan lebih berkembang. Permainan pun dapat terus berkembang jika terus latihan. Kesimpulannya, kenalilah gitar serta alasan-alasannya untuk menyadari apa yang anda inginkan sebenarnya dalam bermain gitar :D. Salam \m/

Kamis, 16 Januari 2014

Mengenali Gitar Berdasarkan 'Brand'

Ada berbagai macam merk gitar yang kita ketahui atau mungkin sudah tak asing lagi bagi para pemain gitar seperti Fender, Gibson, Ibanez, Jackson, Schecter, PRS, ESP, B.C. Rich, dll. Harganya pun cukup beragam dan tentu saja harga pun menentukan kualitas dari gitar-gitar tersebut. Untuk yang sekedar bermain atau sedang bereksplorasi dalam gitar atau mungkin juga hanya ingin mendapatkan prestise maka harga seharusnya bukan masalah. Namun, untuk para pemain gitar yang benar-benar memperhatikan dimana letak permainan anda sendiri, ada pentingnya untuk mengenali merek-merek tersebut.

Di kesempatan ini saya hanya akan membahas merek-merek yang umum saja beserta kelebihan dan kekurangannya berdasarkan pandangan saya. Merek-merek yang akan saya bahas yakni; Fender, Gibson, Jackson, dan Ibanez.


1. Fender
Untuk para gitaris tentunya sudah tak asing lagi dengan nama yang satu ini khususnya mereka yang ber-genre blues, blues-rock, rock n' roll sampai jazz. Fender memang menjadi pilihan dan incaran bagi mereka yang 'tend to like clean sound' dan menyenangi vintage, disamping modelnya yang sederhana dan populer di era rock 70-an, Fender seakan menjadi icon bagi mereka.
Fender memang memiliki karakter tersendiri yang sangat kental dan khas.

Tak mudah mendapatkan sound yang dihasilkan fender dengan hanya menggunakan preamp, mengganti pick-up, atau mencari beberapa pedal equalizer, atau cara apapun yang dapat menyamai karakter suaranya. Fender memiliki karakter suara 'clean' yang natural baik in high-gain maupun clean channel, entah karena pengaruh konfigurasi pick-up tiga single-coilnya, entah karena kayu ash yang menghasilkan bright tone, namun memang hanya teknologi fender sejauh ini baru saya dengar yang bisa menghasilkan clean sound dengan natural. Mudahnya, suara gitar Fender cenderung terdengar "treble" ketimbang bass dan middle.

Selain sound, fender memang memiliki bobot yang cukup ringan, sangat nyaman untuk dibawa on-stage, dikarenakan bodynya yang terbuat dari jenis kayu ash. Memang tidak semua namun kebanyakan gitar Fender berbahan dasar kayu jenis ini.

Mungkin point lain adalah bentuk bodynya yang simple dan familiar. Hasil konklusi survey yang saya dapatkan dari para pengguna Fender mengenai penampilan adalah Fender memang memberi kesan vintage saat dimainkan di panggung, terkesan gaya era 70-an, ada pun yang bilang gagah dan macho entah apa maksudnya -_-". Namun, saya cukup setuju dengan hasil survey yang saya dapatkan.

Stratocaster


Mungkin yang sangat disayangkan dari Fender adalah musik yang dihasilkannya benar-benar mengkhususkan ke arah sedikit genre saja seperti blues, country, rock n' roll, dan jazz dikarenakan soundnya yang clean. Di luar itu, mungkin terkesan aneh dan kurang baik terdengar di telinga untuk memainkan genre metal meskipun gitaris dunia seperti Yngwie Malmsteen, Eddie Van Halen, memainkan genre metal. Jika anda penggemar nu-metal, grindcore, atau metal-metal down-tunning, coba bayangkan seperti apa gitarnya terdengar saat vokalisnya tengah scream? Tentunya akan sangat bising dengan harsh dan treble. Namun ini tidak berarti bagi para pencinta fender tidak bisa bermain musik-musik seperti itu. Tentu saja gear yang lain akan sangat membantu menopang permainan anda dalam genre apapun yang anda mainkan.
Telecaster


Hal lain yang juga disayangkan adalah harganya yang cukup mahal, namun beruntungnya, Fender masih menyediakan pilihan harga yang sedikit murah yaitu Fender 'Squier' jika anda memang mengejar kualitas fender dengan harga yang lebih ramah ketimbang Fender USA. Namun kembali lagi pada apa yang ingin anda dapatkan, hanya Fender, atau Fender dengan prestisenya.







Beberapa gitaris fender mendunia yang saya ketahui dan mungkin salah satunya idola anda yaitu:
EVH Frankenstrat
Eddie Van Halen (Frankenstrat -Modified Stratocaster-)
Eric Clapton (Telecaster)
Eric Johnson (Stratocaster)
Jimmi Hendrix (Left-handed Stratocaster)
Stevie Ray Vaughan (Stratocaster)
Tom Morello (Stratocaster)
Yngwie Malmsteen (Neo-classical Metal, Orchestra Metal/Stratocaster)




2. Gibson
Siapa yang tidak tahu 'Slash Guns and Roses'? Atau mungkin 'Buckethead'? Para pemakai Gibson Les Paul ini cukup terkenal di dunia rock. Saya kurang begitu mendalami tentang Gibson, karena itu, maaf jika ada salah informasi dan ketidak-setujuan anda para pembaca, terutama para pecinta Gibson. Saya akan coba menyajikan beberapa referensi dari berbagai sumber dan sedikit pengalaman yang saya dapatkan dari Gibson.

Yang saya ketahui adalah mungkin Gibson memang bisa memainkan genre lebih universal ketimbang fender meski memiliki sound berkarakter kuat seperti halnya fender. Mungkin jika Fender mengandalkan treble sebagai karakter kuatnya, maka middle lah yang dibawa Gibson sebagai karakternya. Saya tidak tahu faktanya seperti apa suara Gibson terdengar, namun dari pengalaman yang saya dapatkan ketika mencobanya, terlintas dipikiran saya Gibson memiliki suara yang balance namun ada sedikit kecenderungan pada frequensi mid-nya. Ada pun kesimpulan yang saya dapatkan yaitu jika fender adalah bright/clean, maka gibson adalah "warm". Namun saya pun masih ragu dengan pemikiran yang saya dapatkan. Saya coba menggali lagi karakter suara Gibson dengan mendengarkan solo-solo gitar para Artist Gibson seperti Steve Morse, Buckethead, Slash, mereka semua bermain dengan karakter yang berbeda meskipun karakter Gibson-nya tidak hilang. Kesimpulan lain yang saya dapatkan adalah memang benar jika Gibson memiliki karakter yang tidak mudah ditiru oleh brand gitar lain, sama eksklusifnya seperti fender, namun Gibson memiliki jangkauan genre yang lebih luas ketimbang fender. Memang kebanyakan dari Gitaris yang memakai Gibson memainkan rock dan blues, namun masih banyak juga Gitaris metal, punk, alternative rock, yang memakai Gibson.


Slash Gnr

Bobot Gibson terbilang cukup berat, berbeda dengan fender yang berbobot ringan. Saya sempat mendengar percakapan seseorang tentang Gibson mendebatkan bahan dasar kayuna. Entah Basswood, entah maple, yang jelas apa yang didapat dari percakapan mereka adalah bobot kayunya yang berat dan menghasilkan nada warm.








Gibson Explorer

Untuk model dan bentuk bodi, Gibson memiliki varian yang cukup banyak untuk menjadi pilihan. Bagi yang senang dengan vintage-look tentu saja Les Paul akan cocok sekali dibawa on-stage. Bagi yang memang ingin tampak garang mungkin Flying V dan Explorer dapat menjadi pilihan anda untuk rock on di panggung.



Les Paul Gibson

Gibson Flying V












3. Jackson
Pencinta genre metal pasti memasukan Jackson ke dalam opsinya untuk memilih gitar. Dalam genre metal, low frequensi atau bass memang menjadi kebutuhan primer, bukan berarti mengesampingkan bassist yang berperan dalam memainkan low-not, namun frequensi low pada gitar pun berperan penting dalam feeling saat memainkan musik-musik metal dan juga sangat berperan pada musik-musik drop-tunning.

Mark Morton 'Lamb of God'
Karakter sound yang dihasilkan Jackson sendiri cenderung balance antara clean/warm dan bright, dapat sangat baik untuk rythm dan chord atau lead maupun keduanya namun dari kedua sisinya Jackson memiliki tone yang kuat baik di segi low middle yang warm, dan clean/bright treble yang normal (tidak harsh/hum-canceling). Jackson pun dipakai oleh Mark Morton, gitaris band grove metal ternama yang semua penggemar musik metal wajib mengetahuinya, yaitu Lamb of God.


Bobot Jackson sendiri terbilang berat karena kayu yang berdasarkan basswood, dengan beralasan untuk sound balance, basswood memang menjadi bahan untuk mencapai tersebut. Namun jika melihat banyak band metal diatas panggung dan melihat aksi panggung para gitaris cenderung lebih cool dan calm, mungkin bobot menjadi faktor kecil. Di sisi lain, memang metal lebih memperhatikan permainan dan gerakan tangan ketimbang aksi panggung. Ada pun yang lebih beraksi di panggung adalah band-band metal yang masih memiliki ritme dan tidak terlalu "full-technique". Bayangkan betapa pusingnya jika anda memainkan lick atau riff yang sulit dan keep-continue sambil melakukan back roll atau memutar-mutar gitar seperti bermain oolahoop. Jika anda memang bisa melakukannya, saya yakin anda adalah top ten shredder of the world satu peringkat dibawah atau bahkan mungkin diatas Mike Batio :)

Dari segi model, jackson memang lebih banyak menyajikan bentuk yang garang dibanding classic-look. Contohnya seperti Kelly, dll. Untuk melihat berbagai model selengkapnya yang disajikan oleh jackson, anda dapat langsung visit websitenya

Jackson Kelly


Mungkin sisi negatif dari jackson kurang lebih dapat diambil contohnya dari fender. Dikarenakan varian dan modelnya yang tampil garang mungkin akan terlihat aneh saat saat on stage dengan band vintage-rock, berikut tonenya yang memang terdesain untuk rock hingga metal. Mungkin jackson selain genre rock dan metak memang bukan pilihan tepat untuk genre jazz dan bues, namun sekali lagi, ini semua tergantung pada selera anda sebagai gitaris.




4. Ibanez
Nah ini dia gitar yang paling ramah untuk berbagai macam genre, keuangan, dan sound. Anggap saja Ibanez adalah blend dari ketiga karakter di atas yang baru saja kita bahas. Jika saya harus ofensif pada Ibanez disini.. Ibanez tidak memiliki karakter sound? Saya akan menjawab "ya". Ibanez itu gitar murah? Maka jawaban saya pun "ya". Ibanez itu ga konsisten, modelnya kebanyakan, gitarnya pasaran, terlalu standar? Jawabannya pun "tepat sekali". Namun saat anda bertanya pada saya.. Kamu pake Ibanez? Jawaban saya mungkin "hahaha" kemudian disusul dengan "ya". Mungkin jika anda memakai Ibanez anda dapat mengkoreksi poin ke-empat ini, jadi saya akan membahas dengan cara yang sama seperti 3 poin di atas.

Paul Gilbert
Untuk sound, tidak banyak yang bisa diharapkan dari Ibanez sendiri karena Ibanez hanya menyediakan kualitas suara yang standar. Tidak ada yang spesial. Namun untuk para pemakai Ibanez yang sudah mendunia seperti Joe Satch, Steve Vai, Paul Gilbert dkk, adalah mereka memang lebih
memainkan gear untuk mengejar sound seperti apa yang mereka targerkan. Untuk mendapatkan karakter seperti apa yang kita inginkan pada gitar Ibanez adalah dengan cara menentukan pick-up apa yang harus dipakai, Ibanez berbahan kayu apa yang akan kita beli, preamp apa yang cocok kemudian, dan mungkin anda akan jauh merencanakan pedal-pedal untuk mencapai target. Mungkin di sisi lain, Ibanez memang tidak begitu mementingkan karakter sound melainkan comfort playability yaitu kenyamanan dalam bermain, sisanya di masalah sound anda harus mempelajarinya sendiri. Ibanez pun sukses memberi banyak "PR" yang harus saya kerjakan, yaitu; mempelajari warna suara pick-up dan timing saat menggunakan humbucker/single coil dalam sebuah lagu, mempelajari settingan sound pada ampli karena jika pick up berbeda maka karakter suara pun berubah jauh dan besar ukuran ampli menetukan baik cube, combo, tube, maupun head-cab, mempelajari pedal dan memutuskan pedal seperti apa yang memang benar-benar dibutuhkan untuk memainkan sebuah genre, dan masih banyak PR lainnya tentang 'gear'.

Joe Satriani (Kiri) dan Steve Vai (Kanan)
Untuk bobot, tentu saja bobotnya sangat beragam karena Ibanez menyediakan model-modelnya dengan berbagai jenis kayu tergantung apa yang konsumen inginkan. Ada yang masih tetap menginginkan Ibanez namun ingin gitarnya tetap ringan, tetap tersedia gitar berbahan dasar kayu ash, ada yang ingin Ibaneznya berkarakter low dan memiliki sustain yang tinggi, Ibanez pun menyediakan bubinga sebagai bahan dasarnya, namun sayangnya anda bisa memilih secara bebas Ibanez model seperti apa, berbahan dasar kayu apa, sesuai keinginan anda, maka anda harus mengunjungi Ibanez custom shop dan saya belum mengetahuinya di Indonesia ada apa tidak, dan jika ada pun maka statement ramah keuangan dapat berubah menjadi penyebab kemiskinan ^^

Untuk model, sama saja seperti pembahasan sound dan kayu diatas. Semuanya tersedia untuk berbagai kalangan genre, istilahnya universal.
Ibanez RG
Ibanez pun menyediakan hollow body untuk genre Blues dan Jazz. Bentuk-bentuk solid bodynya pun masih ada yang vintage-look. Namun model Ibanez yang terkenal yaitu RG, Iceman, dan Destroyer. Faktanya, Ibanez adalah gitar metal seperti Jackson, namun Ibanez menjadi lebih universal karena variannya yang beragam.

Ibanez Iceman

Sisi negatif dari Ibanez mungkin, sound standar yang pasti membawa kekurang-puasan dalam permainan, untuk mendapatkan sound yang diinginkan anda harus benar-benar mengerti karakter permainan anda berikut gearnya, akan sangat banyak membutuhkan gear dan menghabisi dompet anda jika anda memang menuntut sound seperti apa yang anda inginkan, model-modelnya tak se-classic fender dan gibson untuk vintage look, dan tak se-garang jackson sebagai gitar metal.

Jika ada pertanyaan lanjut tentang Ibanez mungkin akan saya bahas pada kesempatan berikutnya tentang Ibanez. Maafkan saya jika tidak ada pembahasan lebih lanjut tentang Jackson, Gibson, Fender dan yang lainnya. Dikarenakan saya belum begitu banyak belajar mengenai gitar-gitar lainnya, dan perekonomian saya masih terbatas untuk memikirkan fender dkk ^^". Namun pada dasarnya semua gitar memiliki kelebihan dan kekurangan tergantung dari para pemainnya sendiri, dan ini hanya pendapat yang bisa saya bagikan. Sisanya adalah kebutuhan dan selera permainan anda dalam musik, genre dan gitar seperti apakah? Anda yang menentukan :)

Salam..